Sesi Hardianto

Thursday, April 19, 2018

WAWASAN AL-HADITS TENTANG ILMU

A.    LATAR BELAKANG
      Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Untuk itu, maka diutuslah Rasulullah SAW untuk memperbaiki manusia melalui pendidikan. Pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi, yaitu orang-orang yang berilmu. Ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan berharga berupa ketaqwaan kepada Allah SWT. Dengan pendidikan yang baik, tentu akhlak manusia pun juga akan lebih baik. Tapi kenyataan dalam hidup ini, banyak orang yang menggunakan akal dan kepintaraannya untuk maksiat. Banyak orang yang pintar dan berpendidikan justru akhlaknya lebih buruk dibanding dengan orang yang tak pernah sekolah. Hal itu terjadi karena ketidakseimbangannya ilmu dunia dan akhirat. Ilmu pengetahuan dunia rasanya kurang kalau belum dilengkapi dengan ilmu agama atau akhirat. Orang yang berpengetahuan luas tapi tidak tersentuh ilmu agama sama sekali, maka dia akan sangat mudah terkena bujuk rayu syaitan untuk merusak bumi, bahkan merusak sesama manusia dengan berbagai tindak kejahatan. Disinilah alasan mengapa ilmu agama sangat penting dan hendaknya diajarkan sejak kecil. Kalau bisa, ilmu agama ini lebih dulu diajarkan kepada anak sebelum anak tersebut menerima ilmu dunia. Kebodohan adalah salah satu faktor yang menghalangi masuknya cahaya Islam. Oleh karena itu, manusia membutuhkan terapi agar menjadi makhluk yang mulia dan dimuliakan oleh Allah SWT.
B.     WAWASAN AL-HADITS TENTANG ILMU
      Pentingnya belajar dan menuntut ilmu sudah sangat jelas diterangkan diberbagai dalil menuntut ilmu baik ayat suci Al-Quran maupun Hadist Nabi SAW. Allah SWT sendiri telah berfirman dalam Al-Quran surat Al-Mujadalah sebagai berikut
 يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ...
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.s. al-Mujadalah : 11)
     Selain ayat tersebut, masih banyak sekali dalil hadits menuntut ilmu dimana didalamnya dijelaskan berbagai persoalan mengenai apa saja keutamaan menuntut ilmu, kewajiban menuntut ilmu dalam Islam (bahwa menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim), keutamaan mencari ilmu dan lain sebagainya. Dibawah ini akan dibahas mengenai Hadits keutamaan menuntut ilmu dan peran nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan ilmu
1.      Hadits-hadits tentang keutamaan ilmu dan orang-orang yang berilmu
a.       Ilmu merupakan salah satu kunci kesuksesan dunia dan akhirat
مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ أَرَادَ الأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ"
Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka harus dengan ilmu ; dan barangsiapa yang ingin (selamat dan berbahagia) di akhirat, maka harus dengan ilmu; dan barangsiapa yang menginginkan kedua-duanya, maka harus dengan ilmu". (HR. Bukhari dan Muslim).
     Walaupun ada yang berpendapat bahwa Hadits ini dha’if,[1] namun setidaknya hadits ini bisa dijadikan motivasi kita untuk menuntut ilmu.
     Didalam hadits diatas disebutkan bahwa keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat salah satunya haruslah memilki ilmu.
     Ilmu pengetahuan sangat penting bagi kehidupan di dunia. Ilmu pengetahuan merupakan kunci untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Selain itu, segala sesuatu yang akan dikerjakan harus menggunakan ilmu pengetahuan. Tanpa ilmu pengetahuan seseorang tidak dapat melakukan sesuatu. Rasulullah saw. telah menjelaskan bahwa setiap muslim wajib menuntut ilmu pengetahuan. Kewajiban tersebut berlaku sejak seseorang masih dalam kandungan hingga masuk ke liang lahat.
b.      Ilmu merupakan hal yang penting didalam Islam, sehingga memerintahkan umatnya untuk menuntut ilmu mulai dari buaian hingga keliang lahat:
اُطْلُبُوا العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلى اللَّحْدِ
                 Ketika seorang bayi masih berada dalam kandungan tentu saja ia tidak dapat menuntut ilmu sendiri. Ia menuntut ilmu bersama ibu yang mengandungnya. Ketika seorang wanita hamil menghadiri majelis ilmu, berarti anak yang dikandungnya juga turut menuntut ilmu. Kewajiban menuntut ilmu ini berlaku hingga bayi tersebut berkembang menjadi anak-anak, remaja, dewasa, hingga ia menemui ajal dan dimasukkan ke liang lahat.
     Ilmu yang harus dituntut tidak terbatas pada ilmu agama. Ilmu agama sangat penting untuk dipelajari demikian halnya ilmu dalam bidang lain juga penting. Rasulullah saw. memerintahkan umat Islam agar menuntut ilmu sampai ke negeri Cina. Kita ketahui bersama bahwa Cina menawarkan ilmu pengetahuan dalam bidang pedagangan. Dapat diambil kesimpulan bahwa ilmu yang harus dituntut bukan hanya ilmu pengetahuan agama, tetapi juga ilmu pengetahuan yang dapat mendatangkan manfaat bagi kehidupan.
     Kewajiban menuntut ilmu selanjutnya dipertegas oleh Hadits Nabi Muhammad SAW:
...طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
... Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim (H.R. Ibnu Majah).[2]
Hadits ini menegaskan bahwa setiap muslim wajib memiliki ilmu, sebab ibadah tanpa ilmu tidak akan ada artinya. Bahkan dalam hadits yang lain dipertegas lagi bahwa menuntut ilmu itu sangat diperintahkan walaupun sampai ke negeri Cina:
اطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ
Carilah ilmu sekalipun di negeri Cina.
Terlepas dari kedudukan hadits ini (shahih atau dha’if), ada beberapa hal yang dapat diambil pelajaran. Pertama: Menunjukkan bahwa Cina memilki peradaban ilmu yang juga memiliki kemajuan. Kedua: anjuran untuk menuntut ilmu sekalipun harus menempuh perjalanan yang sangat jauh[3].
c.    Ilmu yang kita miliki apabila diwariskan kepada orang lain, maka ilmu itu akan memberi manfaat kepada kita walaupun sudah meninggal dunia:
Disebutkan dalam Hadits ke-741 Kitab Bulughul Marom:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : ( إِذَا مَاتَ اَلْإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالَحٍ يَدْعُو لَهُ )  رَوَاهُ مُسْلِم ٌ
Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apabila ada orang meninggal dunia terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal, yaitu: Sedekah jariyah (yang mengalir), atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang mendoakan untuknya." Riwayat Muslim.
Hadits diatas menjelaskan salah satu dari keutamaan Ilmu, yaitu bisa dibawa sampai kita meninggal dunia.
d.      Orang yang berilmu akan dimudahkan jalan kesyurga
مْن سَلَكَ طَرْيقًا َيلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا ِإلىَ اْلجَنَّةِ (رواه مسلم
“Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga” (HR Muslim)
     Hadits ini menjelaskan betapa mulianya orang yang mencari ilmu, sehingga akan dimudahkan baginya jalan kesyurga, sudah tentu orang yang berilmu juga akan lebih dimudahkan jalannya kesyurga.
e.      Ahli Ilmu Adalah Pewaris Para Nabi
     Yang dimaksud adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Penyebutan para Nabi untuk menegaskan keutamaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di mana apa yang beliau bawa mencakup seluruh ajaran para Nabi. Yang diwariskan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukanlah dinar dan dirham tetapi ilmu berupa cahaya Al-Qur`an dan As-Sunnah.
     Dari Abu Darda Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
... إِنَّ العُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا العِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
... Para ahli ilmu adalah perawis para Nabi. Para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham tetapi mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya berarti telah mengambil keuntungan yang besar.”[4]
f.       Ahli Ilmu Dikecualikan dari Laknat
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ، مَلْعُونٌ مَا فِيهَا، إِلَّا ذِكْرَ اللَّهِ، وَمَا وَالَاهُ، أَوْ عَالِمًا، أَوْ مُتَعَلِّمًا
“Dunia terlaknat dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya kecuali dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya, atau orang alim, atau pelajar.”[5]
g.      Lebih utama dari ahli ibadah
     Dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
فَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ
“Keutamaan ahli ilmu atas ahli ibadah seperti keutamanku atas orang paling rendah dari kalian.”[6]
2.      Peran nabi Muhammad dalam menyebarkan ilmu
                        Bayangkan bagaimana kita berpeluang mendapat kurniaan hidayah dan menikmati keilmuan Islam. Sudah tentulah melalui dakwah dan pendidikan yang sampai kepada kita melalui lapisan-lapisan  pendakwah/guru sejak bermula dari Nabi Muhammad s.a.w. melalui sahabat-sahabat baginda seterusnya turun ke bawah lapisan-demi lapisan hingga kepada kita yang kini sudah memanjang masa hingga saat ini.
                        Rasulullah SAW telah mencapai puncak keilmuan. Sebagai utusan Allah, Beliau mengetahui hukum Al-Quran sampai sedetail-detailnya kemudian menyampaikan serta menjelaskannya kepada manusia. Oleh karena itu, Rasulullah SAW merupakan teladan sekaligus sumber rujukan utama dan pertama bagi segenap kaum Muslimin, baik yang hidup sezaman dengannya maupun generasi-generasi kemudian.
                        Dalam sebuah hadis riwayat at-Thabrani, Nabi Muhammad SAW mengimbau segenap kaum Muslim, "Jadilah engkau orang yang berilmu atau orang yang belajar, atau orang yang mau mendengarkan ilmu, atau orang yang mencintai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang yang kelima, maka kamu akan binasa".
                        Sebagai sumber ilmu-ilmu agama Islam, Rasulullah SAW menumbuhkan dan mengembangkan sunnah sebagai referensi bagi kehidupan umat manusia hingga akhir zaman. Rasulullah SAW mendidik umatnya melalui sunnah agar mereka selamat di dunia dan akhirat.
                        Sebagai pendidik, Nabi Muhammad SAW menerapkan sejumlah prinsip yang dapat ditiru oleh orang-orang saat ini. Pertama, kemudahan akses. Rasulullah SAW hidup berbaur dengan umatnya, baik di Makkah, Madinah, atau di daerah manapun yang sempat disinggahi Beliau. Dalam memberikan pengajaran, Rasulullah SAW tidak menempatkan hijab antara diri beliau dan para sahabat.
                        Nabi SAW juga tidak pernah menghalangi seseorang dari menjumpai Beliau hanya lantaran status sosialnya. Malahan, Rasulullah SAW memilih tempat-tempat yang strategis sebagai lokasi majelis ilmu.
                        Kedua, keanekaan peran. Kadangkala, Rasulullah SAW tidak cukup hanya berperan sebagai pendidik. Seringpula, beliau menjalankan fungsi selaku hakim, pemberi saran, atau pemimpin yang memberikan instruksi. Ini semua bergantung pada konteks keadaan dan persoalan yang sampai kepadanya.
                        Ketiga, yakni efektivitas. Rasulullah SAW selalu peka terhadap kapasitas lawan bicaranya. Beliau berbicara dengan memerhatikan kadar kemampuan akal mereka. Sebab, tiap orang memiliki tingkat pengetahuan dan konteks yang berbeda-beda. Dengan memerhatikan hal itu, penyampaian ilmu atau pesan-pesan tidak akan menimbulkan kesalahpahaman.
                        Jadi, kalau berbicara masalah peran nabi Muhammad SAW dalam pengembangan ilmu pengetahuan, ini berarti berbicara masalah peran Islam dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Hanya saja disini membahas fungsi pribadi Rasulullah SAW.
Rasulullah sebagai guru dan pendidik
            Sebuah ajaran, prinsip dan nasehat tidak akan bisa dibuktikan kebenaran dan kekuatannya selama ia belum pernah diaplikasikan. Aplikasi dan keteladanan yang nyata dari tokoh pembawa ajaran akan menjadi bukti paling kuat dan tak terbantahkan bahwa sebuah ajaran layak dianut karena ia telah membuktikan dirinya sebagai ajaran yang benar dan realistis.
            Islam memiliki tokoh serta teladan dimana seluruh sisi kehidupannya dapat dijadikan contoh oleh para pengikutnya, sehingga ajarannya tidak bersifat khayalan, melainkan terwujud dalam tataran realitas. Dan itu semua nampak dalam pribadi Nabi Muhammad Saw.
            Maka fungsi utama diutusnya Rasulullah Saw adalah untuk menjadi bukti hidup dan contoh nyata dari seluruh ajaran dan syariat Allah SWT yang diturunkan melalui wahyu-Nya. Rasulullah Saw telah memperagakan semua ajaran yang diterimanya dari Allah SWT, hal ini menjadi bukti bahwa Syariat Islam bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehingga tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak mengikuti Islam dengan dalih ajarannya dinilai berat dan di luar batas kemampuan manusia.
            Rasulullah Saw adalah tokoh yang memiliki banyak peran. Ia adalah seorang pemimpin umat, komandan perang, referensi bagi umat dan hakim dalam menyelesaikan berbagai masalah. Tapi dari sekian banyak peran beliau, peran paling utama dan esensial adalah peran sebagai seorang pendidik atau guru.
            Bukti hal ini bisa dilihat pada firman Allah Swt berikut ini:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata (Qs. Al-Jumuah [62]: 2)
Ada tiga peran utama Rasulullah Saw yang tertera dalam di atas:
a.       Membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka
b.      Mensucikan mereka
c.       Mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah).
Ketiga peran itu tersimpul dalam satu kata “Mendidik”
                        Menurut Syekh Moh. Abduh sebagaimana dikutip oleh Moh. Quraish Shihab, memahami ayat tersebut sebagai bentuk kekuasaan. Kebijaksanaan dan ke-Esaan-Nya. Kemudian (membacakan ayat-ayat tersebut) dalam arti menjelaskannya dan mengarahkan jiwa manusia untuk meraih manfaat, pelajaran darinya. Sedangkan makna (mensucikan mereka) adalahmembersihkan jiwa mereka dari keyakinan-keyakinan yang sesat, kekotoran akhlak dan lain-lainyang merajalela pada masa jahiliyah, sedangkan (mengajar kitab) dipahami oleh Moh. Abduh sebagai mengajar tulis menulis dengan pena, karena sesungguhnya agama islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw ini telah mengharuskan mereka belajar tulisan dengan penadan membebaskan mereka dari buta huruf, karena agama tersebut mendorong (bangkitnya) peradaban, serta pengaturan urusan umat. Adapun (hikmah), maknanya menurut Abduh adalah rahasia persoalan-persoalan (agama), pengetahuan hukum, penjelasan tentang kemaslahatan serta pengamalan..[7]
                        Senada dengan ayat diatas, Allah SWT berfirman dalam Q.S. Ali Imran: 164
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ
                       

                        “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”
                        Ini adalah karuania yang paling besar, dimana Rasul yang diutus kepada mereka itu adalah dari jenis mereka sendiri sehingga dengan demikian mereka akan dapat berkomunikasi dan menjadikannya tempat rujukan dalam memahami firman-firman-Nya.[8]
                        Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW. diutus oleh Allah SWT. kepada umatnya untuk menanamkan ilmu sekaligus mensucikan jiwa mereka. Mensucikan berarti membersihkan dari sifat-sifat buruk yang merupakan kebiasaan sebagian besar masyarakat Makkah pada masa itu, seperti syirik, dengki, takabur serta prilaku buruk lainnya seperti ,mabuk-mabukan, merampas hak orang lain dan lain-lain. Nabi Muhammad SAW. membongkar pola pikir masyarakat penyembah berhala hingga mereka menyadari akan kewajiban-kewajibannya menyembah Allah SWT. sebagai pencipta, pengatur, pemelihara umat manusia. Pensucian jiwa dan penyadaran sikap bertauhid dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. dengan pengajaran dan pendidikan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi masyarakat pada waktu itu.
                        Bahkan ayat yang pertama turun kepada Nabi Muhamad Saw yaitu ayat 1-5 Surat Al-‘Alaq. Ayat ini menegaskan bahwa Islam dibangun di atas pondasi Ilmu dan pengetahuan. Dan menjadi tujuan diutusnya Nabi adalah menunjukkan manusia kepada kebenaran dan mengeluarkan mereka dari kegelapan jahiliyah kepada cahaya ilmu dan pengetahuan.
                        Maka tidak heran jika Nabi Muhammad Saw mengutamakan ilmu dan menganjurkan umatnya untuk menuntut ilmu.
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم أنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا وَلَا مُتَعَنِّتًا وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا
Rasulullah Saw bersabda: “Allah tidak mengutusku sebagai orang yang kaku dan keras akan tetapi mengutusku sebagai seorang pendidik dan mempermudah”.[9]
                        Rasulullah Saw bahkan menjadikan ilmu dan belajar sebagai hak dalam bertetangga, maka seorang tetangga wajib menghilangkan buta huruf dari tetangga yang lain.
                        Dari Abu Musa Al-Asyari bahwa Nabi Saw bersabda: “Bagaiamankah keadaan suatu kaum yang tidak mengajarkan tetangga mereka, tidak menasihati mereka, tidak beramar makruf dan nahi mungkar kepada mereka. Dan bagaimanakah keadaan suatu kaum yang tidak belajar dari tetangga mereka, dan tidak meminta nasehat kepada mereka? Demi Allah, Suatu kaum hendaknya mengajarkan tetangga mereka, memberikan nasehat dan beramar makruf dan nahi mungkar kepada mereka dan hendaknya suatu kaum belajar dari tetangga mereka dan meminta nasehat mereka. Jika tidak maka akan disegerakan hukuman di dunia”. (HR. Ath-Thabrani)
                        Rasulullah Saw juga mengajarkan agar seorang guru mendidik dengan dengan cara yang lemah lembut, luwes dan tidak keras. Sebagaimana sabda Nabi Saw berikut:
عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَعَثَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِهِ فِي بَعْضِ أَمْرِهِ قَالَ بَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا وَيَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا
Dari Abu Musa berkata: Jika Rasulullah Saw mengutus seseorang dari para Sahabatnya dalam suatu perkara, beliau bersabda: “Berikanlah berita gembira dan jangan membuat orang lari, permudahlah orang lain jangan engkau persulit”. (HR. Bukhari)[10]















[1] Abi Ubaidah, Hadits-Hadits Dho’if Populer (Bogor: Media Tarbiah, 2000) hlm. 53-61
[2] Ahmad Jamin, Filsafat Ilmu, (Bandung: Alfabeta. 2016), hlm.68
[3] Rihlah (melakukan perjalanan jauh) untuk menuntut ilmu adalah kebiasaan para ulama salaf terdahulu dari kalangan sahabat, tabi’in dan orang-orang setelah mereka, bahkan tak sedikit diantara mereka yang menempuh perjalanan berbulan-bulan hanya untuk mencari satu hadits. Cukuplah sebagai contoh, perjalanan Nabi Musa untuk menemui Nabi Hidhir dalam rangka menuntut ilmu yang disebutkan oleh Allah dalam surat Al-Kahfi.

[4] HR. At-Tirmidzi no. 2682, Abu Dawud no. 3641, dan Ibnu Majah no. 223. Dishahihkan Syaikh Al-Albani
[5] HR. Ibnu Majah no. 4112 dan dihasankan Syaikh Al-Albani, bisa juga diakses: https://thaybah.id/2016/02/21-dalil-shahih-tentang-keutamaan-ilmu-dan-ahli-ilmu-1/
[6] HR. At-Tirmidzi no. 2685 dan dishahihkan Syaikh Al-Albani
[7] M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002) Vol. 14, hlm. 220
[8]  Abdullah bin Muhammad, Tafsir ibnu Katsir (Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, 2003), cet. 2, jilid 2, hlm. 181
[9] HR. Muslim No 2703
[10] Imam Muhammad, Shahih Al-Bukhari, (Surabaya: Pustaka Adil, 2010), hlm. 51